Monday, April 08, 2013

Pada Waktu Kemang


Menjelang tengah malam, pada waktu Kemang, kami berpura-pura mengerti masalah kebangsaan. 

Mobil-mobil berderet, orang-orang masuk klub. Ada musik-musik yang tak terdengar dari luar; pada jam ini, segala lagak dipasang.

Kami sudah memilih sebuah kedai kopi dengan suasana yang memaksa Eropa: tembok berwarna hangat dari batu bata merah, mesin penggiling raksasa disuguhkan di ruang depan di antara meja pengunjung, seolah-olah ingin menambah kesan hangat dari tungku pembakaran agar orang yang kedinginan di luar segera masuk dan merasa nyaman. Padahal tak ada musim dingin. Padahal saya sudah lama berhenti ngopi.

Saya pun berpura-pura: "Pilihkan saya yang paling tidak kecut." 

Seorang barista (baca: tukang kopi) memisahkan dua stoples kaca berisi biji-biji kopi. "Dua-dua-nya ini tidak terlalu kecut," ujarnya seraya menunjuk dua stoples yang masing-masing bertulis "Papua" dan "Toraja". Stoples kaca itu dipenuhi biji-biji kopi dengan warna yang saya tak mampu membedakannya.

Kami berlima, semua pria. A mentraktir saya. Dia memilih Toraja. Saya dan S memilih Papua. Beberapa kejap, kopi pesanan sudah tersuguh di nampan. Saya membawa sepasang Papua ke lantai atas. Teman-teman menyusul setelah pesanannya datang.

"Sekarang susah membangun kelompok diskusi yang betul-betul intens," saya memulai. Kami memulai pembicaraan dengan keseriusan yang entah sungguhan atau pura-pura.

Jaringan intelektual pada masa 70 dan 80-an berawal dari kelompok-kelompok kecil yang sangat berdedikasi. Mereka membangun kekuatan sebagai mahasiswa strata satu di daerah, di Jogja misalnya. Lalu mereka hijrah ke Jakarta. Mereka membuat jaringan-jaringan yang lebih kuat, menyatukan ide-ide dari serambi-serambi rumah yang sederhana. Dari kamar-kamar sewa yang apa adanya. Mereka tidak selalu membutuhkan tempat-tempat formil untuk berdiskusi. Mereka terus menjalin akar-akar dari bawah.

Saya sobek dua kantung gula dan saya tumpahkan di cangkir yang masih kosong. Saya tekan pelampung saringan pada pot kaca, ampas kopi terdorong ke bawah. Saya tuangkan kopi separuh cangkir, saya aduk sebentar, lalu saya cicipi. Saya bukan seorang peracik kopi.

Hari ini, kelompok intelektual sudah tidak laku. Jaringan hanya bisa terbentuk jika ada benang merah politik dalam diskusi. Jaringan hanya akan kuat kalau terbentuk dari atas. Kalau ideologinya hanya soal kebangsaan atau sosial, sesuatu yang "idealis", pasti kelompok ini tak bertahan lama; berdaya bakar sebentar, mengasap dan segera hilang.

Hari ini, para intelektual kita terpisah-pisah. Mereka hidup sendiri-sendiri. Mereka enggan membentuk jaringan "pemikiran". Mereka adalah orang-orang yang "sudah jadi" dan selalu menjaga jarak dari "orang-orang lain yang sama-sama sudah jadi". Mereka memiliki gengsi dan tembok-nya masing-masing. Kepentingannya hanyalah setiap sesuatu yang mampu mengangkat dirinya atau kelompoknya.

Para intelektual tidak saling mengenal dalam arti yang sungguhan. Mereka memang selalu bertemu, namun dalam kapasitas basa-basi, makan malam, di suatu tempat yang serba salah, di pertemuan-pertemuan formil, di klub-klub intelektual yang dipenuhi kamera dan disiarkan televisi. Mereka tidak pernah lahir dari serambi-serambi rumah yang lebih hangat, yang tanpa pengatur udara, yang dipenuhi semilir angin murni yang segar. Mereka lebih suka artifisialisme politis.

Beginilah cara bercerita orang yang pura-pura mengopi. Saya ulangi ritual yang tadi: saya tarik pelampung, saya tekan, saya tuangkan kopi, saya cicipi. Saya coba resapi. Jujur saja, kopi ini kecut sekali rasanya. Mengapa barista tadi bilang kopi ini yang paling tidak kecut? Ia telah berpura-pura menjadi peracik kopi. Saya berpura-pura menjadi penikmat kopi. Jujur saja, kopi di kampung kami lebih lezat rasanya. Kami bercerita sampai kedai tutup pukul 2 dini hari. Sangat serius. Entah sungguhan atau pura-pura.


27 April 2012

3 comments:

M. Faizi said...

saya memang ingin datang ke Kemang, tapi belum kesampaian...

M. Faizi said...

saya memang ingin datang ke Kemang, tapi belum kesampaian...

Pangapora said...

Oooo... Saya pikir ke Alex Komang. Ternyata ke Kemang, toh...