Saturday, April 20, 2013

Ke Garis Kármán


Foto: Robert Llewellyn. Stok: Corbis.

Hari pertemuan tidak harus terlalu istimewa. Kita dihiasi  keterlambatan, kereta yang jorok, dan penampilan minim riasan. Tapi kita akhirnya bertemu juga dan saling tersenyum. 

"Hai,"

"Hai,"

Hari pertemuan yang langka didahului oleh sapaan singkat seolah sudah ribuan kali rutin bertemu... hari pertemuan segera diawali dengan mengecek bahan bakar.

Mengambil posisi masing-masing.

Mengatur kursi kemudi.

Memastikan lingkar setir.

Melihat cermin pandu, di kanan, kiri, dan tengah. Memasang sabuk pengaman. Menahan nafas.

Pada tarikan matic yang tertahan, dan mesin yang suka putaran rendah, kita bertemu, tidak terlalu istimewa, namun isyarat tangan, permainan mimik, serba sekejap, sudah cukup. Hari pertemuan menghentikan aktivitas lampu pengingat pesan di Blackberry. Hari pertemuan membuat kita bisa saling berbicara, suara ke suara, mata ke mata, udara ke udara. Tetapi mengapa kita tidak berbicara?

Hari pertemuan selalu menuntut cuaca yang baik. Cuaca yang baik sudah tersedia, (barangkali begitu katamu, sebab Kau melirik ke luar kaca). Ok. Nah, lalu mau ke mana kita?

Ke Garis Kármán, (barangkali begitu katamu, sebab Kau mendongak ke atas). Jauh. Jauh sekali. Tetapi kita masih perlu bekal dua mangkuk kecil yogurt yang baik. Dua mangkuk yogurt yang baik sudah tersedia, (barangkali begitu katamu, sebab kamu selalu membawanya). 

Ok. Mari kita pergi.

***

Pernahkah engkau menjelajahi waktu dan kebun stroberi? Pernahkan engkau mencapai sebagian batas celestial dan kebun teh? Di ruang angkasa, dan kanvas program grafis, hanya ada tiga warna: merah, hijau dan biru. Kita memilih yang putih, warna kanvas, dan memainkan peran pantomim di atasnya. Masing-masing wajah kita menyampaikan kedataran, sementara waktu telah menggerakkan kita ke lorong kegaduhan rasa dan pikiran. Semua beradu. Bergejolak. Di atas kanvas putih. Di ruang angkasa. 

Para penjaga kebun berlari mencari-cari sumber kegaduhan. Tetapi ia hanya menemukan cuaca yang indah pada hamparan tanah. Kebun stroberinya, kebun tehnya, tampak tentram menyenangkan berhias awan-awan cantik. Tak ada keributan; tak ada apa-apa. Lalu apa yang terjadi?

***

Tak akan terjadi apa-apa saat kita sudah tiba di tempat sejauh ini, sehening ini, pada Garis Kármán. Kita berplesir ke luar angkasa dengan dua mangkuk yogurt dan untaian galaksi. Mengapa bintang-bintang melihat kita? Mengapa planet-planet saling berbisik. Mengapa warna langit begitu hitam dan benda-benda luar angkasa begitu bercahaya? Apakah kita juga tampak bercahaya?

"Sejak kapan kamu suka produk susu?" tanyamu.

"Aku suka produk susu? Betul begitu?"

"Itu, tadi kamu memintaku menyiapkannya, lalu menyantapnya lahap sekali."

"Ah, ini hanya semangkuk kecil."

"Hmmm.... Lalu kita ini ada di mana?"

"Di Garis Kármán."

Jauh sekali.

28 Mei 2012

3 comments:

M. Faizi said...

Karman, mana pula itu? Saya curiga itu nama sebuah benda yang sangat istimewa

Pangapora said...

The Kármán line lies at an altitude of 100 kilometres (62 mi) above the Earth's sea level, and is commonly used to define the boundary between the Earth's atmosphere and outer space, ca'na Wikipedia. Saya ghun paham ka "altitude"-nya, Kak. Ya mengingatkan saya ke Irfan lah....

dee mawai said...

menyimak... :)