Wednesday, January 16, 2013

Kembali ke Sepeda


Rapid 5 dari Cat Eye ini bagus buatannya. Cahaya lima lampunya tampak gagah dari kejauhan. Saya dan teman-teman sudah mencoba beberapa lampu belakang sepeda dengan harga di bawah 50 ribu. Biasanya lampu-lampu itu memiliki banyak mode kedip, tetapi cepat sekali rusak. RedLite II punya saya buatan Topeak memang keren. Tidak terlalu murah, tetapi terlalu kecil dan rasanya kurang terang. Tangguh, tapi ketahanan air-nya agak meragukan. Rapid 5 hanya punya empat mode. Harganya di bawah 200 ribu. Sepertinya cukup layak, meski logo Cat Eye-nya mudah pudar.

Judul posting ini "Kembali Ke Sepeda". Selamat liburan, saya :)

Wednesday, January 09, 2013

Kodepos Salah



"Kodepos-nya salah," ucap petugas Kantor Pos UI itu dingin. Sedikitpun dia tidak melirik saya! Bibirnya menyeringai tapi terkatup. Gayanya acuh tak acuh, barangkali untuk menunjukkan betapa berpengalamannya dia dalam mengurusi segala macam kiriman.

Saya mengerutkan kening. Kodepos salah? Apanya yang salah? Tapi tak ada gunanya mengerutkan kening jika dia sama sekali tak melirik saya. 

"69463, betul?" Saya memastikan.

"Ya. Salah," jawabnya. Gendeng!

Kembali mulutnya terkatup setengah menyeringai (menyeringai kok terkatup ya? Bayangkan saja tentang orang yang sangat bergaya). Dia terus mengetikkan sesuatu di komputernya. Dia merasa menang besar, terutama setelah membaca alamat penerima yang ia bayangkan begitu terpencilnya.

"Oke, oke. Berarti kodepos itu berubah setelah puluhan tahun tak pernah berubah. Sebentar, saya telepon penerimanya!" Ucap saya setengah mengancam. Sial! Saya perhatikan, dia tetap tidak melirik. Tahu-tahu terdengar dia berucap: "Sebentar…" Dia mulai terlihat ragu! Nah! Kena kamu! Untuk menyerang keraguannya, saya tambahkan kalimat ini: "Ya. Itu alamat rumah saya sendiri. Kantor posnya juga di situ! Saya hafal kodeposnya luar kepala!"

Serangan saya lanjutkan dengan menempelkan handphone di telinga. Segera kembali terdengar dia berucap: "Sebentar…" Hahahaha. Rupanya dia bertambah ragu!

"Asal Bapak tahu ya, jika saya mengirim surat kepada yang bersangkutan, cukup nama dan kodepos saja, tanpa alamat, pasti sampai!" Saya kesal bercampur gemas dan hampir tergelak jika tidak saya tahan.

Beberapa saat kemudian, petugas itu pun menyerah: "Ya. Kodepos-nya benar." Hahahahahahahaha. Saya mengakak keras-keras di dalam hati. Tapi tetap saja sial: dia tidak melirik sedikitpun, tidak melihat wajah kemenangan saya!

Catatan: oya. Soal ucapan saya mengirim tanpa alamat, itu hanya ucapan dalam hati. Tidak betul-betul terjadi :D Tetapi siapa yang masih meragukan "Kepada Yth. Kiyai M. Faizi, Kodepos 69463" tidak akan sampai? Bahkan kalau dikirim via P.O. Haryanto, pastilah tak perlu kodepos itu lagi :D

Tuesday, January 08, 2013

Loket Stasiun UI


Loket Stasiun UI ada dua. Satu di jalur Depok, satu lagi di jalur Jakarta. Peron di jalur Depok lebih besar. Di situ ada dua loket yang awalnya dibedakan berdasarkan jenis kereta: satu untuk Commuterline ber-AC yang lebih mahal, dan satu lagi untuk kereta ekonomi. Barangkali untuk alasan kepraktisan kemudian, kedua loket di jalur Depok melebur melayani semua jurusan dan semua jenis kereta. 

Tetapi rupanya, hari ini dua loket itu difungsikan lagi berdasarkan jurusan. Satu loket untuk jurusan Depok, satu loket lainnya untuk jurusan Jakarta. Yang bikin keder, loket jurusan Jakarta lah yang berada lebih dekat dengan pintu masuk. Sementara loket jurusan Depok berada di bagian dead-end.

Nah, pagi ini saya terburu-buru hendak ke Depok. Saya masuk ke loket pertama dan segera menyodorkan uang Rp 1000 rupiah. Uang diterima, namun petugas mengarahkan saya ke loket sebelah. Saya segera beralih ke loket sebelah. Petugas menyerahkan tiket saya, karena di situlah loket pembelian tiket jurusan Depok yang benar.

Sebenarnya, penataan ini ada baiknya juga. Bagi orang yang mau naik kereta jurusan Jakarta, dari pintu masuk mereka bisa cepat mencapai loket pertama. Mereka toh masih harus menyeberang lagi ke jalur dua. Penataan ini menghemat waktu mereka. Tetapi bagaimanapun, karena ini loket jurusan Depok, orang yang hendak menuju Depok atau Bogor secara otomatis akan menghampiri loket terdekat. Tadi saya melihat banyak penumpang salah loket. Mungkin sama seperti saya, belum terbiasa.

***

Dua kereta menuju Depok lewat. Semuanya Commuterline. Tiket saya seharga seribu tidak bisa digunakan. Lalu terdengar pengumuman: Commuterline ketiga akan segera masuk. Saya bergegas ke loket, membeli satu tiket Commuterline. Biarlah tiket pertama hangus, yang penting tiba secepatnya di Depok.

Di dalam kabin, suasana lengang khas kereta pagi jurusan Depok-Bogor. Kursi-kursi empuk merah nyaris tak terisi. Mendadak saya sadar: tiket pertama saya berwarna merah! Itu tiket Commuterline! Rp 8000! Mengapa baru sadar?! 

Pastilah tadi petugas loket salah memberi tiket. Sebab saya membayar di loket yang satunya. Sayangnya, saya terlalu berbaik sangka. Hahaha. Seharusnya saya tak perlu membeli tiket lagi.

Friday, January 04, 2013

Perahu

Anak-anakku melintas di awan danau
berebutan memetik buah senja
Di atas air
bayangan mereka
seperti berenang

Anak-anakku berteriak di awangan
"Ayah, ikut kemari!"
Mereka berkejaran
di dalam angin
memainkan petir

Air mendekat padaku
memeluk cuaca lembab
Air bertanya:
"Mengapa anak-anakmu membuat perahu?"

Di kejauhan
teriakan-teriakan riang
"Nelayan, ikut kemari!"