Wednesday, April 24, 2013

Di Kedai Kaldu Itu....


Satu: jalan aspal begitu hitam terbuat dari campuran hotmix yang baik. Tapi ingatlah, ini jalan kampung. Sempit. Dan hanya sekian persen lalu lalang kendaraan berbanding bilangan detik setiap satu menitnya. Kamu lihat dan pikirkan: betapa eksotisnya kontras garis marka putih di atas jalan yang legam itu; ia ada untuk menegaskan aturan, namun ia tak perlu terlalu khusyu' menjalankan tugasnya. Toh hampir tak ada kendaraan yang melintas di atasnya.

Dua: dua orang pria bermotor mampir di kedai. Seorang dari mereka segera memesan makanan: "Nasi dua." Lalu mereka duduk mengobrol. Tak ada tanda birokrasi tata cara makan apapun: "Nasi dua", itu saja, cukup. "Nasi dua", tanpa ada embel-embel: "filet-nya setengah matang," "kurangi paprika-nya", atau apapun daftar pesanan bertingkat yang manja. Nasi dua: nasi disiapkan si penjual, lalu diterima si pembeli, dan makan siang pun terlaksana begitu saja. Entah apa "isi" dari benda bernama "Nasi dua" itu.

Di kedai kaldu itu, siang ini, 20 mil dari kebisingan kota kecil, kamu bisa mencapai awan kurang dari sepeminuman teh. Mau ikut bersama saya?

5 Juli 2012

Saturday, April 20, 2013

Ke Garis Kármán


Foto: Robert Llewellyn. Stok: Corbis.

Hari pertemuan tidak harus terlalu istimewa. Kita dihiasi  keterlambatan, kereta yang jorok, dan penampilan minim riasan. Tapi kita akhirnya bertemu juga dan saling tersenyum. 

"Hai,"

"Hai,"

Hari pertemuan yang langka didahului oleh sapaan singkat seolah sudah ribuan kali rutin bertemu... hari pertemuan segera diawali dengan mengecek bahan bakar.

Mengambil posisi masing-masing.

Mengatur kursi kemudi.

Memastikan lingkar setir.

Melihat cermin pandu, di kanan, kiri, dan tengah. Memasang sabuk pengaman. Menahan nafas.

Pada tarikan matic yang tertahan, dan mesin yang suka putaran rendah, kita bertemu, tidak terlalu istimewa, namun isyarat tangan, permainan mimik, serba sekejap, sudah cukup. Hari pertemuan menghentikan aktivitas lampu pengingat pesan di Blackberry. Hari pertemuan membuat kita bisa saling berbicara, suara ke suara, mata ke mata, udara ke udara. Tetapi mengapa kita tidak berbicara?

Hari pertemuan selalu menuntut cuaca yang baik. Cuaca yang baik sudah tersedia, (barangkali begitu katamu, sebab Kau melirik ke luar kaca). Ok. Nah, lalu mau ke mana kita?

Ke Garis Kármán, (barangkali begitu katamu, sebab Kau mendongak ke atas). Jauh. Jauh sekali. Tetapi kita masih perlu bekal dua mangkuk kecil yogurt yang baik. Dua mangkuk yogurt yang baik sudah tersedia, (barangkali begitu katamu, sebab kamu selalu membawanya). 

Ok. Mari kita pergi.

***

Pernahkah engkau menjelajahi waktu dan kebun stroberi? Pernahkan engkau mencapai sebagian batas celestial dan kebun teh? Di ruang angkasa, dan kanvas program grafis, hanya ada tiga warna: merah, hijau dan biru. Kita memilih yang putih, warna kanvas, dan memainkan peran pantomim di atasnya. Masing-masing wajah kita menyampaikan kedataran, sementara waktu telah menggerakkan kita ke lorong kegaduhan rasa dan pikiran. Semua beradu. Bergejolak. Di atas kanvas putih. Di ruang angkasa. 

Para penjaga kebun berlari mencari-cari sumber kegaduhan. Tetapi ia hanya menemukan cuaca yang indah pada hamparan tanah. Kebun stroberinya, kebun tehnya, tampak tentram menyenangkan berhias awan-awan cantik. Tak ada keributan; tak ada apa-apa. Lalu apa yang terjadi?

***

Tak akan terjadi apa-apa saat kita sudah tiba di tempat sejauh ini, sehening ini, pada Garis Kármán. Kita berplesir ke luar angkasa dengan dua mangkuk yogurt dan untaian galaksi. Mengapa bintang-bintang melihat kita? Mengapa planet-planet saling berbisik. Mengapa warna langit begitu hitam dan benda-benda luar angkasa begitu bercahaya? Apakah kita juga tampak bercahaya?

"Sejak kapan kamu suka produk susu?" tanyamu.

"Aku suka produk susu? Betul begitu?"

"Itu, tadi kamu memintaku menyiapkannya, lalu menyantapnya lahap sekali."

"Ah, ini hanya semangkuk kecil."

"Hmmm.... Lalu kita ini ada di mana?"

"Di Garis Kármán."

Jauh sekali.

28 Mei 2012

Friday, April 19, 2013

Demokrasi Tiruan dan Kekerasan Buatan


Beberapa waktu lalu, saya mengikuti diskusi tentang demokrasi dan keamanan nasional. Garis besar temanya soal dilema ancaman keamanan yang mendatangkan terhimpitnya kebebasan. Terorisme menghadirkan ketakutan; ketakutan memunculkan keadaan darurat; keadaan darurat mewenangkan keadaan siaga; kebebasan berkurang: telepon dilacak, ekspresi dibatasi.

Rupanya, beberapa partisan diskusi melampirkan terorisme pada imajinasi tentang orang-orang berjubah, menenteng golok, merazia tempat-tempat ibadah atau tempat-tempat "maksiat" tertentu. Gambaran yang belakangan ini umum dijumpai itu, menurut mereka berhasil mengancam "kebebasan dari rasa takut". Berarti mengancam demokrasi juga, karena membahayakan ketakterlanggaran hak (inviolability of rights). Kemudian dengan sengit mereka berdiskusi tentang bagaimana bentuk paling tepat UU keamanan nasional yang saat ini sedang digodok.

Saya berkomentar, bahwa tidak semua fenomena ancaman terhadap kebebasan merupakan masalah keamanan nasional. Selain itu, urusan kita pada apa yang kita anggap sebagai keamanan nasional itu terlanjur tercipta karena imajinasi kita atas wacana Amerika tentang keamanan nasional mereka. Saat keamanan nasional Amerika terancam, kita merasa ikut-ikutan terancam dengan beberapa bukti "aneh" tentang bom Bali, FPI, kekerasan terhadap Ahmadiyah --terhadap Syi'ah, dan semacamnya. Kita memiliki permasalahan yang lebih "partikular" dari pada nasional. 

Secara singkat saya mengambil contoh kasus Sampang: kekerasan terhadap Syi'ah bahkan bukanlah ancaman terhadap Sampang, alih-alih nasional. Ini dramatisasi konflik keluarga. Ia menjadi isu nasional karena beberapa pertimbangan kepentingan dan cara pandang kebebasan keberagamaan yang serba naif. Jika para intelektual di Jakarta percaya pada isu "orang kampung" tentang Syi'ah melawan Sunni yang coba mereka bangun, lalu apa distinksi intelektualitas mereka dengan masyarakat yang coba dibelanya itu?

Media --utamanya-- membantu membangun isu ini. Permasalahan utama Sampang adalah banjir tahunan. Itu jika media betul-betul mau memediasikan perdamaian di Sampang, membantu meredam konflik; itu jika pemerintah betul-betul mau turun dan tulus memerangi kekerasan "buatan" semacam itu agar tak terjadi lagi; itu jika aktivis betul-betul tidak terpaku pada kebebasan semu yang lahir dari imajinasi akan kebebasan yang diserap secara salah kaprah dari bangsa asing nun jauh di sana lalu mengabaikan permasalahan ril di pelupuk mata. Cobalah dibaca ulang: dalam konteks keamanan nasional, siapa yang terancam dan siapa yang mengancam di sini?

Diskusi tentu sangat memahami pandangan saya di atas: bagaimana membuat perundang-undangan keamanan nasional menjadi rangkaian undang-undang spesifik sesuai kasus yang dihadapi. Tidak semuanya harus menjadi nasional.

Bagaimanapun, pandangan saya terlalu kekanak-kanakan jika mencoba tak paham. Memangnya di mana kita berada? Kita berada di negeri simulasi dengan demokrasi buatan dan fenomena-fenomena berbangsa yang serba artifisial. Saya mengerti mengapa --akhirnya-- banyak orang berburuk sangka kepada negara. Ya, negara memang menginginkan kekacauan ini. Negara membuat semua ini. Begitu pikir mereka, dan seringkali saya percaya.

10 November 2012

Sunday, April 14, 2013

Orang Tua, Cinta(, & Politik)


Alain Badiou. Dari The Guardian. Stok: Corbis.

Pagi-pagi berkegiatan rumahan. Seperti biasa, tidak pernah bisa mengontrol waktu. Maunya ke perpustakaan jam 8, tapi karena menunggu cucian sambil membaca, semua terlewat.

Ada ulasan tentang Alain Badiou di The Guardian. Orang tua ini bicara tentang cinta, dengan prinsip "kuno" yang sebenarnya hampir semua saya setujui, tapi hampir semua terlalu klise dan agak aneh karena disampaikan oleh orang setua itu.

Tapi dia mengaku bukan pula orang romantis maupun klasik. Romantisisme menegakkan cinta dengan cara melawan tradisi pernikahan à la klasisisme. Romantisisme dengan demikian hanyalah l'amour fou, antisocial love.

"Cinta bukan sekadar kontrak dari dua orang yang sama-sama narsis," katanya. Orang ini usianya sudah 75 tahun. Menurut pengakuannya, dia hanya sekali pernah menyerah pada cinta. Setelah itu, tidak: "…. I have never again abandoned a love. And I feel really assured by the fact that the woman I have loved I have loved for always." Hmmm. Barangkali saya memang perlu belajar :D

Katanya, saat ini di Paris hampir separuh pasangan hanya mampu bertahan kurang dari lima tahun. Menyedihkan. Mereka tidak mengerti "the joy of love".  Mereka hanya tahu kesenangan seksual. Dan sudah sejak lama, Lacan bilang, hubungan seksual sebenarnya "tidak ada". Yang ada hanyalah artikulasi dari sikap narsisistik yang membalut suatu imajinasi. "If you limit yourself to sexual pleasure, it's narcissistic. You don't connect with the other, you take what pleasure you want from them."

Badiou juga mencermati Méetic, situs kencan yang lagi tenar, yang ke mana-mana menawarkan "get perfect love without suffering" atau "be in love without falling in love". Ini tentu serba salah. Sex bisa dibeli, tapi cinta tidak bisa dibeli. L'amour n'est pas une marchandise non plus, katanya. Cinta bukan lah komoditas (barangkali sebagai sekuel dari buku José Bové, Le Monde n'est pas use Marchandise). Dengan demikian, Méetic berarti hanyalah "… kamu menghitung siapa yang memiliki selera yang sama, fantasi yang sama, liburan yang sama, dan menginginkan jumlah anak yang sama." Bukankah itu keren, sanggah penulis The Guardian. "Tentu. Semua orang menginginkannya. Tapi cinta tidak seperti itu. Kamu tidak bisa membelinya."

Kesungguhan Badiou pada semacam "idealita" cinta ini, bertemu dengan idenya soal politik. "Politik sejati adalah yang menghadirkan antusiasme," tuturnya. "Real politics" berbeda dengan "parliementary cretinism", yang justru sering kita lihat saat ini. Maka ide tentang politik yang tidak selalu identik dengan kekuasaan perlu diangkat. Politik sejati menjadi semacam antusiasme kolektif untuk memecahkan masalah. "Ini bukan dengan semata-mata mendelegasikan permasalahan pada para profesional, para pakar. Cinta sama seperti politik: dua-duanya tidak selalu menjadi urusan para pakar. Tak ada pakar dalam soal cinta dan politik."

Tiba-tiba ada email masuk. Seorang teman kelas bilang, sebagian nilai hasil belajar sudah bisa dilihat di SIAK. Dia sedang di kampus. Saya balas, kemungkinan nanti saya salat Jum'at di kampus dan berharap bisa berjumpa di perpustakaan untuk sekadar ngobrol. Tapi saya masih sarapan pagi, membaca satu buku, tidur sebentar, mencuci; kegiatan yang membuat rencana-rencana menjadi terlewat: saya baru bisa berangkat ke kampus pukul setengah satu siang, setelah salat Jum'at. Apa kabar Badiou?

15 Juni 201

Friday, April 12, 2013

Semangkuk Kolam


Ia mengirim kecipak ikan
pada musim gerah
saat teratai kolam telah menjadi sampah

Pada pigura kayu cengkih
ingatannya menempel perih
nafas mengalir
darah memburu
mengulas kitab masa lalu

Ia kirim langkahnya yang gontai
keyakinan mengapung
harapan terasing
Ia cecap dirinya sendiri
kepahitan sudah rampung

Ia kirim semangkuk kolam
dengan air hijau
dalam senja Juni musim gersang
Pada keruh lumpurnya
rahasia-rahasia
Ia telan tanpa sisa

Ia mengirim kecipak ikan
tapi kolam sudah susut
berganti malam larut

In memoriam: ars
26 Desember 2012

Monday, April 08, 2013

Jika dalam Hidup Tak Ada Lagi Rusa



Jika dalam hidup kita tak ada lagi rusa, kandang besar di seberang stasiun itu akan kosong. Hanya sebidang tanah merah, dikelilingi pagar besi dan pohon-pohon kapuk. 

Pada bulan Desember, ribuan kepompong itu pecah, menumpahkan kapuk-kapuk putih di atas jalan merah pesepeda. Kapuk-kapuk itu menyebar di mana-mana seperti suasana musim salju. Seharusnya, ada kereta anjing lewat di situ: seorang lelaki tua gembul bermantel merah membawa karung hadiah. Sayangnya, tak akan ada lagi rusa-rusa melihat semua pemandangan ini. Sebab sudah tak ada lagi rusa dalam hidup kita.

Jika dalam hidup kita tak ada lagi rusa, apakah Bis Kuning akan tetap berhenti di Halte Stasiun untuk menurunkan dan menaikkan penumpang?

Jika dalam hidup kita tak ada lagi rusa, saya tetap akan berhenti di kurungan besar itu. Saya akan mengeluarkan kamera, tripod, menyiapkannya, lalu mengambil tempat di sana. Tapi apakah mobil rumput itu akan datang? Jika mobil rumput itu masih juga datang, akankah para pengurus kandang itu mengangkut rumput-rumput ke dalam kandang? 

Mereka selalu tiba pukul 8 pagi. Mereka akan membuka pintu kandang, masuk ke balik pagar, dan menyebarkan rumput itu di beberapa titik. Tetapi tak akan ada lagi yang berlari mengejar, tak akan ada lagi suara riuh rendah rusa-rusa, tak akan ada lagi yang menjamah rumput itu. Apakah rumput itu masih akan bergembira?

Siapakah yang hidupnya bergantung pada rusa? Siapakah yang hidupnya merasa kehilangan rusa? Namun apalah arti rusa di balik pagar? Adakah rusa-rusa yang terkurung dapat memberikan pengaruh pada kehidupan? Apa perbedaan rusa yang dikurung dengan rusa yang bebas di hutan? Apa beda rusa yang telah mati dan rusa yang hanya menjadi bagian dari ingatan? Mengapa rusa-rusa dalam kurungan itu hidup tetapi dibiarkan terpisah dari alam raya? 

Jika dalam hidup kita tak ada lagi rusa, lalu buat apa pagar itu masih berdiri di sana, mengelilingi kandang raksasa di seberang stasiun?


27 April 2012

Pada Waktu Kemang


Menjelang tengah malam, pada waktu Kemang, kami berpura-pura mengerti masalah kebangsaan. 

Mobil-mobil berderet, orang-orang masuk klub. Ada musik-musik yang tak terdengar dari luar; pada jam ini, segala lagak dipasang.

Kami sudah memilih sebuah kedai kopi dengan suasana yang memaksa Eropa: tembok berwarna hangat dari batu bata merah, mesin penggiling raksasa disuguhkan di ruang depan di antara meja pengunjung, seolah-olah ingin menambah kesan hangat dari tungku pembakaran agar orang yang kedinginan di luar segera masuk dan merasa nyaman. Padahal tak ada musim dingin. Padahal saya sudah lama berhenti ngopi.

Saya pun berpura-pura: "Pilihkan saya yang paling tidak kecut." 

Seorang bartender (baca: tukang kopi) memisahkan dua stoples kaca berisi biji-biji kopi. "Dua-dua-nya ini tidak terlalu kecut," ujarnya seraya menunjuk dua stoples yang masing-masing bertulis "Papua" dan "Toraja". Stoples kaca itu dipenuhi biji-biji kopi dengan warna yang saya tak mampu membedakannya.

Kami berlima, semua pria. A mentraktir saya. Dia memilih Toraja. Saya dan S memilih Papua. Beberapa kejap, kopi pesanan sudah tersuguh di nampan. Saya membawa sepasang Papua ke lantai atas. Teman-teman menyusul setelah pesanannya datang.

"Sekarang susah membangun kelompok diskusi yang betul-betul intens," saya memulai. Kami memulai pembicaraan dengan keseriusan yang entah sungguhan atau pura-pura.

Jaringan intelektual pada masa 70 dan 80-an berawal dari kelompok-kelompok kecil yang sangat berdedikasi. Mereka membangun kekuatan sebagai mahasiswa strata satu di daerah, di Jogja misalnya. Lalu mereka hijrah ke Jakarta. Mereka membuat jaringan-jaringan yang lebih kuat, menyatukan ide-ide dari serambi-serambi rumah yang sederhana. Dari kamar-kamar sewa yang apa adanya. Mereka tidak selalu membutuhkan tempat-tempat formil untuk berdiskusi. Mereka terus menjalin akar-akar dari bawah.

Saya sobek dua kantung gula dan saya tumpahkan di cangkir yang masih kosong. Saya tekan pelampung saringan pada pot kaca, ampas kopi terdorong ke bawah. Saya tuangkan kopi separuh cangkir, saya aduk sebentar, lalu saya cicipi. Saya bukan seorang peracik kopi.

Hari ini, kelompok intelektual sudah tidak laku. Jaringan hanya bisa terbentuk jika ada benang merah politik dalam diskusi. Jaringan hanya akan kuat kalau terbentuk dari atas. Kalau ideologinya hanya soal kebangsaan atau sosial, sesuatu yang "idealis", pasti kelompok ini tak bertahan lama; berdaya bakar sebentar, mengasap dan segera hilang.

Hari ini, para intelektual kita terpisah-pisah. Mereka hidup sendiri-sendiri. Mereka enggan membentuk jaringan "pemikiran". Mereka adalah orang-orang yang "sudah jadi" dan selalu menjaga jarak dari "orang-orang lain yang sama-sama sudah jadi". Mereka memiliki gengsi dan tembok-nya masing-masing. Kepentingannya hanyalah setiap sesuatu yang mampu mengangkat dirinya atau kelompoknya.

Para intelektual tidak saling mengenal dalam arti yang sungguhan. Mereka memang selalu bertemu, namun dalam kapasitas basa-basi, makan malam, di suatu tempat yang serba salah, di pertemuan-pertemuan formil, di klub-klub intelektual yang dipenuhi kamera dan disiarkan televisi. Mereka tidak pernah lahir dari serambi-serambi rumah yang lebih hangat, yang tanpa pengatur udara, yang dipenuhi semilir angin murni yang segar. Mereka lebih suka artifisialisme politis.

Beginilah cara bercerita orang yang pura-pura mengopi. Saya ulangi ritual yang tadi: saya tarik pelampung, saya tekan, saya tuangkan kopi, saya cicipi. Saya coba resapi. Jujur saja, kopi ini kecut sekali rasanya. Mengapa bartender (baca: tukang kopi) tadi bilang kopi ini yang paling tidak kecut? Ia telah berpura-pura menjadi peracik kopi. Saya berpura-pura menjadi penikmat kopi. Jujur saja, kopi di kampung kami lebih lezat rasanya. Kami bercerita sampai kedai tutup pukul 2 dini hari. Sangat serius. Entah sungguhan atau pura-pura.


27 April 2012