Alain Badiou. Dari The Guardian. Stok: Corbis.
Pagi-pagi berkegiatan rumahan. Seperti biasa, tidak pernah bisa mengontrol waktu. Maunya ke perpustakaan jam 8, tapi karena menunggu cucian sambil membaca, semua terlewat.
Ada ulasan tentang Alain Badiou di The Guardian. Orang tua ini bicara tentang cinta, dengan prinsip "kuno" yang sebenarnya hampir semua saya setujui, tapi hampir semua terlalu klise dan agak aneh karena disampaikan oleh orang setua itu.
Tapi dia mengaku bukan pula orang romantis maupun klasik. Romantisisme menegakkan cinta dengan cara melawan tradisi pernikahan à la klasisisme. Romantisisme dengan demikian hanyalah l'amour fou, antisocial love.
"Cinta bukan sekadar kontrak dari dua orang yang sama-sama narsis," katanya. Orang ini usianya sudah 75 tahun. Menurut pengakuannya, dia hanya sekali pernah menyerah pada cinta. Setelah itu, tidak: "…. I have never again abandoned a love. And I feel really assured by the fact that the woman I have loved I have loved for always." Hmmm. Barangkali saya memang perlu belajar :D
Katanya, saat ini di Paris hampir separuh pasangan hanya mampu bertahan kurang dari lima tahun. Menyedihkan. Mereka tidak mengerti "the joy of love". Mereka hanya tahu kesenangan seksual. Dan sudah sejak lama, Lacan bilang, hubungan seksual sebenarnya "tidak ada". Yang ada hanyalah artikulasi dari sikap narsisistik yang membalut suatu imajinasi. "If you limit yourself to sexual pleasure, it's narcissistic. You don't connect with the other, you take what pleasure you want from them."
Badiou juga mencermati Méetic, situs kencan yang lagi tenar, yang ke mana-mana menawarkan "get perfect love without suffering" atau "be in love without falling in love". Ini tentu serba salah. Sex bisa dibeli, tapi cinta tidak bisa dibeli. L'amour n'est pas une marchandise non plus, katanya. Cinta bukan lah komoditas (barangkali sebagai sekuel dari buku José Bové, Le Monde n'est pas use Marchandise). Dengan demikian, Méetic berarti hanyalah "… kamu menghitung siapa yang memiliki selera yang sama, fantasi yang sama, liburan yang sama, dan menginginkan jumlah anak yang sama." Bukankah itu keren, sanggah penulis The Guardian. "Tentu. Semua orang menginginkannya. Tapi cinta tidak seperti itu. Kamu tidak bisa membelinya."
Kesungguhan Badiou pada semacam "idealita" cinta ini, bertemu dengan idenya soal politik. "Politik sejati adalah yang menghadirkan antusiasme," tuturnya. "Real politics" berbeda dengan "parliementary cretinism", yang justru sering kita lihat saat ini. Maka ide tentang politik yang tidak selalu identik dengan kekuasaan perlu diangkat. Politik sejati menjadi semacam antusiasme kolektif untuk memecahkan masalah. "Ini bukan dengan semata-mata mendelegasikan permasalahan pada para profesional, para pakar. Cinta sama seperti politik: dua-duanya tidak selalu menjadi urusan para pakar. Tak ada pakar dalam soal cinta dan politik."
Tiba-tiba ada email masuk. Seorang teman kelas bilang, sebagian nilai hasil belajar sudah bisa dilihat di SIAK. Dia sedang di kampus. Saya balas, kemungkinan nanti saya salat Jum'at di kampus dan berharap bisa berjumpa di perpustakaan untuk sekadar ngobrol. Tapi saya masih sarapan pagi, membaca satu buku, tidur sebentar, mencuci; kegiatan yang membuat rencana-rencana menjadi terlewat: saya baru bisa berangkat ke kampus pukul setengah satu siang, setelah salat Jum'at. Apa kabar Badiou?
15 Juni 201

No comments:
Post a Comment