Wednesday, April 24, 2013

Di Kedai Kaldu Itu....


Satu: jalan aspal begitu hitam terbuat dari campuran hotmix yang baik. Tapi ingatlah, ini jalan kampung. Sempit. Dan hanya sekian persen lalu lalang kendaraan berbanding bilangan detik setiap satu menitnya. Kamu lihat dan pikirkan: betapa eksotisnya kontras garis marka putih di atas jalan yang legam itu; ia ada untuk menegaskan aturan, namun ia tak perlu terlalu khusyu' menjalankan tugasnya. Toh hampir tak ada kendaraan yang melintas di atasnya.

Dua: dua orang pria bermotor mampir di kedai. Seorang dari mereka segera memesan makanan: "Nasi dua." Lalu mereka duduk mengobrol. Tak ada tanda birokrasi tata cara makan apapun: "Nasi dua", itu saja, cukup. "Nasi dua", tanpa ada embel-embel: "filet-nya setengah matang," "kurangi paprika-nya", atau apapun daftar pesanan bertingkat yang manja. Nasi dua: nasi disiapkan si penjual, lalu diterima si pembeli, dan makan siang pun terlaksana begitu saja. Entah apa "isi" dari benda bernama "Nasi dua" itu.

Di kedai kaldu itu, siang ini, 20 mil dari kebisingan kota kecil, kamu bisa mencapai awan kurang dari sepeminuman teh. Mau ikut bersama saya?

5 Juli 2012

4 comments:

Anonymous said...

"Hati-hati banyak kodok berkeliyyaran. Jangan lamtas dilimpit". Yang seperti ini momkin yang harus khoso'

Pangapora said...

Lhe, beh! Anonimos... :D

partelon said...

Kedai kaldu: mengingatkan saya pada Mercy E300 via Kantor PCNU Sumenep... Membuat saya menginta jugak sadeka'an itu, hehehe... :-)

M. Faizi said...

bahasa orang yang sedang "jethu" biasanya memang kayak ini... ada "ikut"-nya itu.

Kamu sedang "jethuuu.."?